3 Jurnal Softskill yang memiliki keterkaitan
3 Jurnal Softskill yang memiliki keterkaitan
Jurnal 1
PERBEDAAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PADA WANITA LANSIA DI KOMUNITAS DAN PANTI
LATAR BELAKANG
Selain ditinjau dari perbedaan jumlah dan angka harapan hidupnya, lansia pria dan wanita juga
memiliki perbedaan pada tingkat kualitas hidupnya. Usia harapan hidup serta jumlah wanita lansia
yang lebih tinggi dari pria Lansia. Namun, Dragomirecka & Selepova (2002) dalam studinya
mengungkapkan bahwa kualitas hidup pria lansia lebih tinggi dari pada wanita lansia. Pada pria
lansia dilaporkan secara signifikan bahwa pria lansia memiliki kepuasan yang lebih tinggi dalam
, kondisi kehidupan dan kesehatan. Wanita lansia memiliki nilai yang lebih tinggi dalam hal kesepian,
ekonomi yang rendah dan kekhawatiran terhadap masa depan. Perbedaan gender tersebut ternyata
memberikan andil yang nyata dalam kualitas hidup lansia. Perlu adanya suatu upaya peningkatan
kualitas hidup terhadap lansia, terutama wanita lansia mengingat usia harapan hidup yang lebih tinggi
serta jumlah wanita lansia yang lebih banyak. Meningkatnya jumlah lansia tentu tidak lepas dari
proses penuaan beserta masalahnya.
Perbedaan Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Komunitas Dan Panti Berdasarkan Kesehatan Fisik
Sebagian besar responden berada pada kelompok umur 60-74 tahun. Nisman (1998, dalam Rahayu,
2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa semakin tua umur lansia tingkat ketergantungannya
akan semakin tinggi. Mayoritas responden penelitian berada kelompok umur yang sama, sehingga
penurunan fisik akibat proses penuaan yang dialami wanita lansia di komunitas dan panti juga
cenderung tidak menunjukkan perbedaan.
Jenis pelayanan yang berbeda pada kedua kelompok responden tersebut tidak memberikan dampak
yang nyata terhadap perbedaan kualitas kesehatan fisik. Jenis kegiatan yang berkaitan dengan
kesehatan fisik di komunitas adalah posyandu lansia yang diadakan 1 bulan sekali, namun tidak
menutup kemungkinan bagi wanita lansia di komunitas untuk menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan yang lain seperti puskesmas dan rumah sakit, jika dibutuhkan. Kegiatan dalam setting
panti dapat berupa senam lansia setiap pagi dan pemeriksaan kesehatan oleh petugas puskesmas
yang dilaksankan secara rutin, namun dalam pelaksanaannya masih tergantung pada kebutuhan
penghuni panti terhadap pengobatan. Jika tidak ada keluhan yang berarti penghuni panti memilih
untuk tidak memanfaatkan fasilitas tersebut. Karena tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan,
maka kegiatan tersebut dapat pula diterapkan pada setting yang berbeda, misalnya senam lansia setiap
pagi dapat pula di terapkan di komunitas dan pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat pula dilakukan
di komunitas dengan frekuensi yang lebih tinggi.
Perbedaan Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Komunitas Dan Panti Berdasarkan Psikologis
Tidak adanya perbedaan aspek psikologis wanita lansia di panti dan di komunitas, dapat dikaitkan
dengan umur responden yang berada pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Desmita (2009)
menyatakan bahwa sesuai teori psikososial Erickson, lansia berada pada tahap perkembangan
yang terakhir yaitu integritas. Integritas merupakan suatu keadaan dimana seseorang telah mencapai
penyesuaian diri terhadap berbagai keberhasilan dan kegagalan dalam hidupnya. Lawan dari integritas
adalah keputusasaan tertentu dalam menghadapi perubahan dalam berbagai siklus kehidupan individu.
Persamaan kelompok usia yang mendominasi antara wanita lansia di komunitas dan panti,
mengindikasikan bahwa tahap perkembangan psikososial antara kedua kelompok responden
juga sama. Dengan adanya penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan dalam aspek hidupnya,
lansia akan cenderung melakukan penerimaan terhadap keadaan dirinya (Crain, 2007).
Penerimaan yang dilakukan lansia tentunya akan berdampak pada kepuasan terhadap dirinya,
misalnya mengenai gambaran diri, harga diri, perasaan dan keadaan spiritual lansia.
Perbedaan Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Komunitas Dan Panti Berdasarkan Lingkungan
Terdapat perbedaan kualitas hidup lansia ditinjau dari lingkungan pada wanita lansia di komunitas
dan panti. Wanita lansia komunitas memiliki rata-rata skor domain lingkungan yang lebih tinggi dari
wanita lansia di panti. Hal ini dapat dikaitkan dengan perbedaan tingkat pendidikan wanita lansia
panti dan komunitas yang akan berpengaruh terhadap perekonomian mereka. Tingkat pendidikan
yang paling banyak dicapai oleh wanita lansia di komunitas adalah SMA dan tingkat pendidikan
terbanyak di panti adalah SD.
Perbedaan Kualitas Hidup Wanita Lansia Di Komunitas Dan Panti Berdasarkan Hubungan
Sosial
Tidak terdapat perbedaan kualitas hidup lansia ditinjau dari hubungan sosial pada wanita lansia
di komunitas dan panti. Sesuai dengan hasil penelitian Elvinia (2006) yang menyatakan bahwa tidak
terdapat perbedaan hubungan sosial pada lansia janda atau duda yang tinggal bersama keluarga dengan yang tinggal di panti wredha. Persamaan hubungan sosial antar kedua kelompok lansia tersebut dikarenakan oleh masing-masing tempat tinggal memberikan dukungan yang cukup bagi lansia, baik dari keluarga,
pasangan hidup dan teman. Lansia yang tinggal di panti werdha memiliki teman-teman sebaya
sebagai pemberi dukungan sosial.
George Alwen S – 4ka08 – 13112114
JURNAL 2
PERUBAHAN FUNGSI FISIK DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN RESPON PSIKOSOSIATPADA LANSIA DI KETURAHAN KEMBANGARUM SEMARANG
Latar belakang
Pembangunan kesehatan, ditujukan pada keseiahteraan manusia secarautuh sejak konsepsi
dan berlangsung sepanlang masa hidupnya, baik itumanusia sebagai individu, kelompok, keluarga
maupun masyarakat,secara komprehensif. Pembangunan kesehatan pada kelompok, terutamaditulukan
pada kelompok yang beresiko terhadap kemungkinan munculnyamasalah kesehatan karena
kerentanannya, misalnya kelompok balita, kelompokibu hamil dan tidak kalah pentingnya adalah
kelompok lansia atau laniut usia.
Masalah kesehatan lansia di lndonesia membutuhkan kesigapan dan kesiapan masyarakat pada umumnya dan pakar serta pemerintah secara khususnya. Menurut Kusumoputro (2003),masalah kesehatan (Demensia) pada lansia akan menjadi amat krusial karena kelambanan dalammengantisipasi perubahan paradigma pada lansia, yang disebabkan
oleh
a) Masyarakat sendiribelum memperoleh informasi yang cukup tentang masalah kemunduran kognitif pada lansia yangnormal seperti mudah lupa, kelemahan kognitif ringan dan demensia,
b) belum ada badan ataulembaga yang khusus mengkaii dan meneliti masalah tersebut,
c) belum ada pedoman organisasitentang masalah tersebut,
d) belum tersedia perangkat evaluasi yang baik untuk masalah tersebut,dan
e) belum tersedia perangkat yang canggih untuk masalah tersebut.
PEMBAHASAN
Rata-rata usia lansia (Mean) 67 tahun. Hal ini menunlukkan bahwa terjadinya peningkatan umur
harapan hidup lansia di lndonesia. Sesuai dengan pendapat Darmojo (2000),dimana sekarangini umur
harapan hidup orang lndonesia sudah mulai naik, bisa sampai dengan umur 65 - 70tahun.
Jurnal 3
PENGARUH GAYA HIDUP TERHADAP STATUS KESEHATAN LANJUT USIA (LANSIA)
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DARUSALAM MEDAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengaruh Gaya Hidup terhadap Status Kesehatan Lanjut Usia(Lansia)
a). Pengaruh Pola Makan terhadap Status Kesehatan Lansia (Lanjut Usia) di Wilayah Kerja
Puskesmas Darusalam Medan tahun 2011Hasil penelitian tentang variabel pola makan ditemukan
63 orang pada kategori tidak baik dengan persentase tertinggi status kesehatan buruk sebanyak 77,8%
responden.
Uji statistik menunjukkan variabel pola makan berpengaruh terhadap status kesehatanlansia.
Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin baik pola makan lansia maka akan
meningkat status kesehatan. Pola makan perlu diperhatikan karena pola makan yang tidak baik akan
menimbulkan beberapa
penyakit. Dalam hal ini pola makan padalansia sebagian besar termasuk tidak baik.
b). Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Status Kesehatan Lanjut Usia (Lansia) di
Wilayah Kerja Puskesmas Darusalam Medan tahun 2011Hasil penelitian tentang variabel aktivitas fisik ditemukan 74 orang pada kategori tidak cukup dengan persentase tertinggi status kesehatan buruk sebanyak 74,3%. Uji statistik menunjukkan variabel aktivitas fisik berpengaruh terhadap status kesehatan lansia. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin cukup aktivitas fisik lansia maka akan meningkat status kesehatannya. Aktivitas fisik lansia yang tidak cukup akan menimbulkan beberapa penyakit. Dalam hal ini aktivitas fisik pada lansia sebagian besar termasuk tidak cukup. Namun masih perlu menjadi perhatian bahwa untuk menciptakan hidup sehat segala sesuatu yang kita lakukan tidak boleh berlebihan karena hal tersebut bukannya lebih baik tetapi sebaliknya akan memperburuk keadaan. Jadi sebaiknya lansia melakukan aktivitas fisik sesuai dengan kebutuhan.
c). Pengaruh Kebiasaan Istirahat terhadap Status Kesehatan Lanjut Usia (Lansia)di Wilayah Kerja
Puskesmas Darusalam Medan tahun 2011Hasil penelitian tentang variabel kebiasaan istirahat
ditemukan 57 orang pada kategori tidak cukup dengan persentase status kesehatan buruk sebanyak
82,5%. Uji statistik menunjukkan variabel kebiasaan istirahat berpengaruh terhadap status kesehatan
lansia. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin cukup istirahat lansia maka akan
meningkat status kesehatan. Kebiasaan istirahat perlu diperhatikan karena kebiasaan istirahat yang
cukup akan membantu tubuh kembali normal setelah digunakan untuk beraktifitas.
d). Pengaruh Riwayat Merokok terhadap Status Kesehatan Lanjut Usia (Lansia)
di Wilayah Kerja Puskesmas Darusalam Medan tahun 2011Hasil penelitian tentang variabel riwayat
merokok ditemukan 49 orang lansia dengan riwayat pernah merokok dengan persentase status
kesehatan buruk sebanyak 83,7%. Uji statistik menunjukkan variabel riwayat merokok berpengaruh
terhadap status kesehatan lansia Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan jika lansia tidak
pernah merokok maka akan meningkat status kesehatannya
KESIMPULAN KETIGA JURNAL
Angka harapan hidup lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor makanan, pola hidup
hingga faktor psikologis dan masih banyak faktor yang mempengaruhinya. Sudah seharusnya
seorang lansia mendapatkan perhatian dan perawatan yang lebih guna menunjang harapan
hidupnya. Namun agar mendapatkan tubuh yang sehat bugar saat lansia, olahraga rutin dan
pola hidup sehat sudah harus diterapkan sejak muda. Karena semakin bertambahnya umur
seseorang maka daya tahan tubuh seorang akan semakin melemah, dan pada akhirnya memasuki
masa lansia membutuhkan orang-orang yang peduli dan mau merawat kita. Maka hidup sehat
harus dibiasakan dan diterapkan sejak muda, tidak merokok apalagi minum-minuman keras, olahraga rutin dan makan makanan bergizi dan bernutrisi cukup akan menunjang
angka harapan hidup seseorang.
Posting Komentar